MAKALAH TORIQOT DAN JIHAD

BAB I

PENDAHULUAN

Tarikat atau tarekat berasal dari lafal Arab thariqah artinya jalan. Kemudian mereka maksudkan sebagai jalan menuju Tuhan; Sedangkan jihad adalah usaha untuk menuju jalan tuhan. Jihad merupakan usaha, mujahid adalah orang yang berjihad Ilmu batin dan Tasawuf.

Perkataan Tarikat (“jalan” bertasawuf yang bersifat praktis) lebih dikenal ketimbang tasawuf, khususnya dalam kalangan para pengikut awam yang merupakan bagian terbesar. Tarikat tidak membicarakan filsafat tasawuf, tetapi merupakan amalan (tasawuf) atau prakarsanya. Pengalaman tarikat merupakan suatu kepatuhan secara ketat kepada peraturan-peraturan syariat Islam dan mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, baik yang bersifat ritual maupun sosial, yaitu dengan menjalankan praktek-praktek dan mengerjakan amalan yang bersifat sunat, baik sebelum maupun sesudah sholat wajib, dan mempratekkan riyadah. Para kyai menganggap dirinya sebagai ahli tarikat.

Jihad biasa diartikan oleh masyarakat adalah berperang melawan kaum kafir. Namun yang sebenarnya jihad adalah usaha untuk menuju jalan tuhan. Yang artinya bukan hanya berperang melawan kaum kafir saja. Namun juga berperang melawan hawa nafsu, menyiarkan ajaran agama islam dan melawan keangkara murkaan dan mendekatkan diri pada tuhan yang Maha Esa.

BAB I

PEMBAHASAN

  1. 1. Pengertian Toriqot dan Jihad
    1. 1. Arti Toriqot

Tarikat atau tarekat berasal dari lafal Arab thariqah artinya jalan. Kemudian mereka maksudkan sebagai jalan menuju Tuhan;

Perkataan Tarikat (“jalan” bertasawuf yang bersifat praktis) lebih dikenal ketimbang tasawuf, khususnya dalam kalangan para pengikut awam yang merupakan bagian terbesar. Tarikat tidak membicarakan filsafat tasawuf, tetapi merupakan amalan (tasawuf) atau prakarsanya. Pengalaman tarikat merupakan suatu kepatuhan secara ketat kepada peraturan-peraturan syariat Islam dan mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, baik yang bersifat ritual maupun sosial, yaitu dengan menjalankan praktek-praktek dan mengerjakan amalan yang bersifat sunat, baik sebelum maupun sesudah sholat wajib, dan mempratekkan riyadah. Para kyai menganggap dirinya sebagai ahli tarikat.

Jihad biasa diartikan oleh masyarakat adalah berperang melawan kaum kafir. Namun yang sebenarnya jihad adalah usaha untuk menuju jalan tuhan. Yang artinya bukan hanya berperang melawan kaum kafir saja. Namun juga berperang melawan hawa nafsu, menyiarkan ajaran agama Islam dan melawan keangkara murkaan dan mendekatkan diri pada tuhan yang Maha Esa.

  1. 2. Arti Jihad

Jihad adalah usaha untuk menuju jalan tuhan. Jihad merupakan usaha, mujahid adalah orang yang berjihad Ilmu batin dan Tasawuf.

Jihad berasal dari kata jâhada, yujâhidu, jihâd. Artinya adalah saling mencurahkan usaha. Lebih jauh lagi Imam an-Naisaburi dalam kitab tafsirnya menjelaskan arti kata jihad –menurut bahasa-, yaitu mencurahkan segenap tenaga untuk memperoleh maksud tertentu.

Al-Quran menggunakan arti kata jihad seperti diatas dalam beberapa ayatnya, seperti ayat berikut:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dalam hal yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik. (TQS. Luqman [31]: 15)

Untuk menentukan bahwa suatu pertempuran itu tergolong jihad fi sabilillah atau termasuk perang saja, maka kita perlu mencermati fakta tentang jenis-jenis peperangan yang dikenal dalam khasanah Islam. Di dalam Islam terdapat kurang lebih 12 jenis peperangan, yaitu:

  1. Perang melawan orang-orang murtad.
  2. Perang melawan para pengikut bughât.
  3. Perang melawan kelompok pengacau (al-hirabah atau quthâ at-thuruq) dari kalangan perompak dan sejenisnya.
  4. Perang mempertahankan kehormatan secara khusus (jiwa, harta benda dan kehormatan).
  5. Perang mempertahankan kehormatan secara umum (yang menjadi hak Allah atau hak masyarakat).
  6. Perang menentang penyelewengan penguasa.
  7. Perang fitnah (perang saudara).
  8. Perang melawan perampas kekuasaan.
  9. Perang melawan ahlu dzimmah.
  10. Perang ofensif untuk merampas harta benda musuh.
  11. Perang untuk menegakkan Daulah Islam.
  12. Perang untuk menyatukan negeri-negeri Islam.

Tidak dipungkiri, kata jihad memiliki pengaruh yang amat luas, dan masih memiliki greget yang mendalam di kalangan kaum Muslim. Gaung jihad akan segera menghentakkan kaum Muslim, yang sehari-harinya biasa-biasa saja. Seketika kita berubah wujud menjadi luar biasa. Fenomena semacam ini amat dipahami, baik oleh musuh-musuh Islam maupun kalangan Muslim sendiri. Tidak aneh jika kata jihad sering dipelintir maknanya untuk kepentingan politik negara-negara besar maupun kalangan-kalangan tertentu.

  1. 2. Macam-macam Aliran Toriqot yang ada di Indonesia

Dalam tradisi pesantren terdapat dua bentuk tarikat:

  1. Yang dipratekkan menurut cara-cara yang dilakukan oleh organisasi-organisasi tarikat,
  2. Yang dipratekkan menurut cara di luar ketentuan organisasi-organisasi tarikat.

Tidak semua organisasi tarikat menganut sistem kepercayaan dan praktek keagamaan yang sama. Terdapat dua kelompok organisasi tarikat menganut sistem kepercayaan dan praktek keagamaan yang sama Yaitu :

  1. Yang sepenuhnya sejalan dengan ajaran-ajaran Al-Qur`an dan hadits;
  2. Yang tidak memiliki kaitan yang cukup kuat dengan Al-Qur`an dan hadits.

Berikut ini ada beberapa tarikat-tarikat yang menerangkan nama pendirinya, wafat pendirinya, tempat tarikatnya, pengaruhnya, asal-usulnya dan keterangan-keterangan yang perlu.

1.   Tarikat Haddadiah

Tarikat yang didirikan oleh Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad yang wafat 1095M di Yaman. Banyak orang yang takut ikut tarikatnya berhubung ratibnya yang terkenal, Ratib Al-Haddad, dipercayai sebagai doa selamat yang bermantera. Pengaruhnya tak hanya di Aceh, tapi hampir di seluruh negara Indonesia.

2.   Tarikat Khalwatiah

Tarikat yang diprogandakan dalam abad-18 oleh Syaikh Mustafa Al-Bakri di Mesir dan Suriah. Salah seorang tokoh tarikat ini ialah Ahmad At-Tijani yang berasal dari Aljazair.

3.   Tarikat Maulawiah

Tarikat yang didirikan oleh Maulwi Jalaluddin Ar-Rumi, meninggal dunia di Anatoila, Turki. Zikirnya disertai tarian mistik dengan cara keadaan tak sadar, agar dapat bersatu dengan Tuhan. Penganut-penganutnya bersifat pengasih dan tidak mengharapkan kepentingan diri sendiri, serta hidup sederahana menjadi teladan bagi orang lain.

4.   Tarikat Mu`tabarah Nahdliyin

Para kyai pada tanggal 10 Oktober 1957 mendirikan suatu badan federasi

Dalam anggaran dasarnya dinyatakan bahwa badan ini bertujuan

  1. Meningkatkan pengamalan syariat Islam di kalangan masyarakat
  2. Mempertebal kesetiaan masyarakat kepada ajaran-ajaran dari salah satu Mazhab yang empat; dan
  3. Menganjurkan para anggota agar meningkatkan amalan-amalan Ibadah dan Muamalah, sesuai dengan yang dicontohkan para ulama salihin.

Pasal 4 menyatakan bahwa badan ini akan tetap setia kepada paham Ahlussunnah wal-Jama`ah. Alasan utama mendirikan badan federasi ini adalah:

  1. Untuk membimbing organisasi-organisasi tarikat yang dinilai belum mengajarkan amalan-amalan yang sesuai dengan Al-Qur`an dan hadis;
  2. Untuk mengawasi organisasi-organisasi tarikat agar tidak menyalahgunakan pengaruhnya untuk kepentingan yang tidak dibenar kan oleh ajaran-ajaran agama.
  3. Tarikat Naqsyabandiah

Tarikat ini mula-mula didirikan di Turkestan oleh Bahiruddin Naqsyabandi (sumber lain menyebutkan, Muhammad bin Muhammad Bahauddin al-Bukhari 1317-1389M, bukan Imam Al-Bukhari perawi Hadits, pen) dan di Indonesia termasuk tarikat yang paling ber­pengaruh. Pimpinannya, Sulaiman Effendi, mempunyai markas besar yang terletak di kaki gunung Abu Qubbais di pnggiran kota Makkah. Pengikut-pengikutnya kebanyakan dari Turki dan wilayah-wilayah Hindia Belanda dulu, serta di bekas jajahan Inggris di daerah Melayu.

Pada umumnya tarikat ini paling banyak pengikutnya di Jawa sejak abad ke-19 sampai saat ini.

Tarikat ini adalah tarikat terbesar di dunia, juga di Indonesia, dan dianggap paling terawat baik. Ada seleksi untuk jadi pengi­kutnya. Markasnya di Jawa ada di Jombang, Semarang, Sukabumi, Labuhan Haji (Aceh) di pesantren Syaikh Waly, Khalidi.

  1. Tarikat Qadiriah

Asal mulanya di Bagdad, dan dipandang paling tua. Pendirinya ialah Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani (1077-1166M). Mula-mula ia seorang ahli bahasa dan ahli Fiqih dari mazhab Hambali. Tulisannya pada umumnya berdasarkan ajaran Ahlus-Sunnah wal-Jama`ah. Ada sejumlah bukunya yang ditulis oleh murid-muridnya yang menceritakan kesaktiannya.

Pelajaran Tarikat Qadiriah tidak jauh berbeda dari pelajaran Islam umum. Hanya saja tarikat ini mementingkan kasih sayang terhadap semua makhluk, rendah hati dan menjauhi fanatisme dalam keagamaan maupun politik. Keistimewaan tarikatnya ialah zikir dengan menyebut-nyebut nama Tuhan.

Kaum Qadiriah terlalu menyamakan Tuhan dengan manusia. Paham Qadiriah pada hakikatnya adalah sebagian dari faham Mu`tazilah, karena imam-imamnya orang mu`tazilah. (Apa yang ditulis di Leksikon Islam ini, agaknya rancu dengan aliran Qada­riyah, yaitu aliran yang menganggap bahwa manusia ini bebas dan berkuasa penuh untuk menentukan dirinya, tidak ada campur tangan Tuhan, lawan dari aliran Jabbariyah yang menganggap manusia hanya bagai wayang yang seluruhnya dijalankan oleh dalang, semuanya digerakkan oleh Tuhan tanpa ada upaya manusia, pen. Selanjutnya, Leksikon Islam itu menulis:)

Ada anggapan membaca Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jilani pada tanggal 10 malam tiap bulan bisa melepaskan kemiskinan. Karena itu manaqibnya populer, baik di Jawa maupun Sumatra. (Ini jelas bid’ah dan sesat, lihat Sorotan terhadap Kissah Maulid, Nisfu Sya’ban, Manakib Syaikh AK Jailany oleh HSAAl-Hamdany, Pekalon­gan, 1971, dan Kitab Manakib Syekh Abdul Qadir Jaelani Merusak Aqidah Islam oleh Drs Imron AM, Yayasan Al-Muslimun Bangil Jatim, cetakan keenam, 1411H/ 1990, pen).

  1. Tarikat Qadiriah Naqsyabandiah

Gabungan ajaran dua tarikat, yaitu Tarikat Qadiriah dan Tarikat Naqsyabandiah. Pendirinya Syaikh Khatib Sambas. Tarikat ini merupakan sarana yang sangat penting bagi penyebaran agama Islam di Indonesia dan Malaya dari pusatnya di Makkah antara pertenga­han abad ke-19 sampai dengan perempat pertama abad ke-20.

  1. Tarikat Rifa’iah

Didirikan oleh Syaikh Ahmad bin Ali-Abul Abbas (wafat 578H/1183M). Syaikh Ahmad, yang konon guru Syaikh Abdul Qadir Jilani, begitu asyik berzikir hingga tubuhnya terangkat ke atas, ke angkasa. Tangannya menepuk-nepuk dadanya. Kemudian Allah memerintahkan kepada bidadari untuk memberinya rebana di dadanya, daripada menepuk-nepuk dada.

Tapi Syaikh Ahmad tidak ingat apa-apa; begitu khusuknya, sehingga ia tak mendengar suara rebananya yang nyaring itu. Padahal selu­ruh dunia mendengar suara rebana itu.

Tarikat ini agak fanatik dan anggotanya dapat melakukan hal-hal yang ajaib, misalnya makan pecahan kaca, berjalan di atas api, dan sebagainya. Rifa`iah,  yang memang merinci tarikatnya dengan rebana, di Aceh dulu pernah berkembang besar dan disebut Rapa’i sudah sulit mencarinya yang asli, yang masih berpegang teguh pada ajaran.

  1. Tarikat Samaniah

Tarikat yang dikenal di Jawa Barat dan Aceh, didirikan oleh Syaikh Muhammad Saman Dari Madinah, Arab Saudi, yang wafat tahun 1702 M. Manaqib (riwayat hidup) Syaikh Saman banyak dibaca orang yang mengharap berkah. Manaqib itu ditulis oleh Syaikh Siddiq Al-Madani, murid beliau.

Di situ tertulis: “barang siapa berziarah ke makam Rasullah tanpa meminta izin kepada Syaikh Saman ziarahnya sia-sia.” (Ini contoh kebatilan yang nyata, pen).

Juga disebutkan: “Siapa yang menyeru nama Syaikh tiga kali, hilang kesedihannya. Siapa yang makan-makanannya masuk surga. Siapa yang berziarah ke makamnya serta membaca doa-doa untuknya, diampuni dosanya.” (ini benar-benar mengada-ada atas nama agama, na’udzubillahi min dzaalik, pen). Tarikat Saman sekarang menjadi tari Seudati di Aceh. Zikir Saman mulanya hampir sama dengan zikir-zikir yang lain. Namun kemudian berkembang menjadi zikir yang ekstrim.

10.  Tarikat Sanusiah

Tarikat yang didirikan oleh Syaikh Muhammad bin Ali As-Sanusi, tahun 1837, di Aljazair, meninggal dunia tahun 1957. Pusat tari­kat ini di Libia.

11.  Tarikat Siddiqiah

Asal-usul tarikat ini tidak begitu jelas, dan tidak terdapat di negara-negara lain. Muncul dan berkembang di Jombang, Jawa Timur, dimulai oleh kegiatan Kiyai Mukhtar Mukti yang mendirikan tarikat ini tahun 1953.

12.  Tarikat Syattariah

Tarikat yang dibangun oleh Syaikh Abdullah Syattari di India. Tarikat ini di Jawa masih ada, misalnya di sekitar Madiun. Di Aceh dulu mengalami puncaknya di zaman Sultanah (Ratu) Safiatud­din. Tarikat ini dibawa oleh Syaikh Abdurra’uf Sinkil yang kemudian bergelar Syiah Kuala.

13.  Tarikat Syaziliah

Tarikat yang didirikan oleh Ali As-Syazili, terdapat di Afrika Utara, dan Arab, juga Indonesia, walaupun tidak luas tersebarnya dan pengaruhnya relatif kecil.

14.  Tarikat Tijaniah

Tarikat yang didirikan oleh Ahmad At-Tijani. Tarikat ini dengan cepat meluas di Afrika Barat dan di negara-negara lain, antaranya Indonesia. Di Afrika tarikat ini telah banyak yang mengislamkan orang-orang Negro. (Ahmad At-Tijani ini mengaku dirinya adalah al-qothbul maktum yang menjadi perantara/ penengah antara semua anbiya’ (para nabi) dan auliya’ (para wali). Lihat Ilat Tashawwuf ya ‘Ibadallah oleh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Jam’iyyah Ihyait Turats al-Islami, hal 42, pen).

15.  Tarikat Wahidiah

Tarikat yang ini didirikan oleh Kyai Majid Ma`ruf di Kedonglo, Kediri (Jawa Timur), 1963. Teoritis tarikat ini terbuka sifatnya, karena orang tidak usah mengucapkan sumpah untuk menjadi anggota: siapa saja yang mengamalkan zikir salawat wahidiah sudah dianggap sebagai anggota.

BAB III

PENUTUP

  1. 1. Kesimpulan

Tarikat atau tarekat berasal dari lafal Arab thariqah artinya jalan. Kemudian mereka maksudkan sebagai jalan menuju Tuhan, Jihad berasal dari kata jâhada, yujâhidu, jihâd. Artinya adalah saling mencurahkan usaha. Lebih jauh lagi Imam an-Naisaburi dalam kitab tafsirnya menjelaskan arti kata jihad –menurut bahasa-, yaitu mencurahkan segenap tenaga untuk memperoleh maksud tertentu Perkataan Tarikat (“jalan” bertasawuf yang bersifat praktis) lebih dikenal ketimbang tasawuf, khususnya dalam kalangan para pengikut awam yang merupakan bagian terbesar. Tarikat tidak membicarakan filsafat tasawuf, tetapi merupakan amalan (tasawuf) atau prakarsanya. Pengalaman tarikat merupakan suatu kepatuhan secara ketat kepada peraturan-peraturan syariat Islam dan mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, baik yang bersifat ritual maupun sosial, yaitu dengan menjalankan praktek-praktek dan mengerjakan amalan yang bersifat sunat, baik sebelum maupun sesudah sholat wajib, dan mempratekkan riyadah. Para kyai menganggap dirinya sebagai ahli tarikat.

Jihad adalah usaha untuk menuju jalan tuhan. Jihad merupakan usaha, mujahid adalah orang yang berjihad Ilmu batin dan Tasawuf. Jihad berasal dari kata jâhada, yujâhidu, jihâd. Artinya adalah saling mencurahkan usaha. Lebih jauh lagi Imam an-Naisaburi dalam kitab tafsirnya menjelaskan arti kata jihad –menurut bahasa-, yaitu mencurahkan segenap tenaga untuk memperoleh maksud tertentu.

  1. 2. Pesan, Kritik dan Saran

Pemakalah sangat berterima kasih atas segala partisipasinya atas selesainya makalah ini. Dalam penulisan makalah ini mungkin masih banyak kekurangan dalam keterangan yang ada. Dan pemakalah mengharapkan bantuan pesan, kritik dan saran agar tercapainya kesempurnaan dalam pemaknaan.

DAFTAR PUSTAKA

Leksikon Islam, Pustaka Azet Perkasa Jakarta 1988, II, hal 707.

TORIQOT NAQSABANDIYAH

Peletak dasar Thoriqoh Naqsyabandiyah ini adalah Al-Arif Billah Asy Syaikh Muhammad bin Muhammad Bahauddin Syah Naqsyabandi Al-Uwaisi Al- Bukhori radliyallahu anhu (717-865 H) .

Dijelaskan oleh Syaikh Abdul Majid bin Muhammad Al Khaniy dalam bukunya Al-Hada’iq Al-Wardiyyah, bahwa thoriqoh Naqsabandiyyah ini adalah thoriqohnya para sahabat yang mulia radlallahu anhum sesuai aslinya, tidak menambah dan tidak mengurangi. Ini merupakan untaian ungkapan dari langgengnya (terus menerus) ibadah lahir bathin dengan kesempurnaan mengikuti sunnah yang utama dan ‘azimah yang agung  serta kesempurnaan dalam menjauhi bid’ah dan rukhshah dalam segala keadaan gerak dan diam, serta langgengnya rasa khudlur bersama Allah Subhanahu wa ta’ala, mengikuti Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam dengan segala yang beliau sabdakan dan  memperbanyak dzikir qalbi.

Dzikirnya para guru Naqsyabandiyah adalah qalbiyah (menggunakan Hati). Dengan itu mereka bertujuan hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala semata dengan tanpa riya’, dan mereka tidak mengatakan suatu perkataan dan tidak membaca suatu wirid  kecuali dengan dalil  atau sanad dari kitab Allah Subhanahu wa ta’ala  atau  sunnah Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Asy-Syaikh Musthofa bin Abu Bakar Ghiyasuddin An-Naqsyabandiy menyatakan dalam risalahnya Ath Thoriqoh An-Naqsabandiyah Thoriqoh Muhammadiyah, bahwa thoriqoh ini memiliki tiga marhalah (tingkatan);

a.       Hendaklah anggota badan kita berhias dengan dzahirnya syari’ah Muhammadiyah.

b.       Hendaklah jiwa- jiwa kita bersih dari nafsu- nafsu yang hina, yaitu hasad, thama’, riya, nifaq, dan ‘ujub pada diri sendiri. Karena hal itu merupakan  sifat yang paling buruk dan karenanya iblis mendapatkan  laknat.

c.       Berteman dengan shadikin (orang-orang yang berhati jujur)

Thoriqoh Naqsyabandiyah ini mempunyai banyak cabang aliran thoriqoh di Mesir.

Toriqot rifaiyyah

Mu’assis Thoriqoh Rifaiah adalah Wali Agung Sayid Ahmad Ar-Rifa’i radliallahu ‘anhu (512-578 H). Beliau telah meletakkan dasar-dasar yang kuat dan prinsip-prinsip yang kokoh untuk thoriqoh yang mubarakah, yaitu ajakan untuk beriman dan mengikuti sunnah Rasul Allah, menjaga rukun Islam, berpegang pada keutamaan-keutamaan dan menjauhi hal-hal yang hina (sifat dan perilaku yang nista).

Diantara nasehat- nasehatnya yang terkenal antara lain:

“Hendaklah kalian berdzikir pada Alllah Subhanahu wa ta’ala, karena dzikrullah itu adalah magnet-magnet penghubung dan tali yang bisa  mendekatkan diri kepada-Nya. Barang siapa yang berdzikir pada Allah Subhanahu wa ta’ala maka ia akan merasa aman bersama dengan Allah dan pasti akan bisa sampai kepadanya.”

“TaShollallahu ‘alaihi wa sallamwuf adalah berpaling dari selain Allah Subhanahu wa ta’ala, tidak sibuk berfikir tentang dzat Allah dan hanya berserah diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.”

Toriqot qodiriyah

Pendiri (mu’assis) Thoriqoh Qodiriyah adalah Wali agung Sayyid Syaikh Abdul Qodir bin Musa Al-Jilany radliallahu anhu (470-561H). Jalur nasab ayahnya sampai pada Sayidina Hasan, sedang ibunya  sampai pada Sayidina Husain.

Beliau telah meletakkan dasar-dasar yang kokoh dan prinsip-prinsip yang benar untuk thoriqohnya yang agung  dalam kitabnya Al-Ghaniyah li Tholibii Thoriqil-Haq dan kitabnya Al-Fath Ar-Rabbani wal Faidl Ar-Rahmaniy.

Disamping itu beliau juga perintahkan pada muridnya untuk berdzikir kepada Allah Subhanahu wa ta’ala pada malam hari, siang hari dan setelah shalat lima waktu,agar dapat wushul kepada-Nya.

Diantara nasehat-nasehatnya yang terkenal antara lain:

“Janganlah seseorang menghukumi syirik, kufur atau nifaq kepada satu orang pun  dari ahli qiblat (orang yang melaksanakan shalat). Karena hal itu tidak akan  mendekatkan pada sifat  kasih sayang  dan tidak akan meninggikan derajat, justru akan menjauhkan  diri dari merasuknya ilmu Allah Subhanahu wa ta’ala. Tidak akan menjauhkan nya dari murka Allah dan tidak pula mendekatkan pada ridla Allah dan rahmatNya.

Perbaikilah akhlaq, karena ia adalah pintu keagungan dan kemuliaan di sisi Allah, yang akan menyebabkan seorang hamba bersikap kasih sayang  kepada makhluk semuanya.”

“Belajarlah fiqh, dan ‘uzlahlah.”

“Amal shaleh adalah  perkerjaan yang hanya bisa dikerjakan oleh orang yang bisa srawung (bergaul) dengan Allah dengan kejujuran.”

“Hakekat syukur adalah pengakuan  bahwa semua kenikmatan yang dialami datangnya dari Sang Pemberi Nikmat , yaitu Allah Subhanahu wa ta’ala .”

Thoriqoh Qodiriyah ini penganutnya tersebar meluas di Iraq, Mesir, Sudan, Libya, Tunisia, Al-Jazair, Daratan Afrika, dan juga Indonesia.

Toriqot sadzaliyah

Pendiri Thariqah Syadzaliyah adalah seorang Wali Agung, Abul Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar Asy-Syadzaliy radliallahu anhu (593-656 H). Kehidupan Beliau adalah kehidupan  seorang syaikh pengembara di muka bumi, sambil bersungguh-sungguh dengan berdzikir dan berfikir untuk mencapai fana’ (ketiadaan diri pada Allah). Dan Beliau ajarkan pada muridnya sikap zuhud pada dunia dan iqbal (perasaan hadir di hadapan Allah). Dan juga menganjurkan mereka untuk berdzikir pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala di setiap waktu, tempat, dan keadaan serta menempuh jalan tashawuf. Beliau juga mewasiatkan agar para muridnya membaca kitab Ihya’ Ulumuddin dan kitab Qutul Qulub.

Syaikh Syadzili menjelaskan pada muridnya bahwa thariqahnya berdiri di atas lima perkara yang pokok, yaitu;

  1. Taqwa pada Allah Subhanahu wa ta’ala dalam keadaan rahasia maupun terbuka.
  2. Mengikuti sunnah Nabi dalam perkataan maupun perbuatan.
  3. Berpaling dari makhluk (tidak menumpukan harapan) ketika berada di depan atau di belakang mereka.
  4. Ridlo terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala dalam (pemberian-Nya) sedikit maupun banyak.
  5. Kembali kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dalam keadaan senang maupun duka.

Disamping mengajak mereka  untuk mengiringi thoriqohnya dengan dzikir-dzikir dan do’a–do’a sebagaimana termuat dalam kiab-kitabnya, seperti kitab Al-Ikhwah, Hizb Al-bar, Hizb Al-Bahr, Hizb Al-Kabir, Hizb Al-Lathif, Hizb Al-Anwar dan sebagainya.

Thoriqoh Syadzaliyah ini berkembang dan tersebar di Mesir, Sudan, Libia, Tunisia, Al-Jazair,  Negeri utara Afrika dan juga Indonesia.

Toriqot ahmadiyah

Thoriqoh Ahmadiyah yang juga terkenal dengan Thoriqoh Badawiyah ini, mu’assisnya adalah Sayyid Ahmad Al-Badawiy radliyallahu anhu (596-675 H) Beliau mempunyai banyak karangan kitab yang berharga, diantaranya yang paling masyhur adalah kitab Ash-Sholawat, yang berupa kumpulan do’a-do’a dan dzikir-dzikir.

Diantara nasehat- nasehatnya yang terkenal antara lain:

“Jauhilah cinta dunia, karena ia akan merusak amal shaleh.”

“Sayangilah anak yatim, pakaianilah orang yang telanjang, berilah makan orang yang lapar, muliakanlah orang asing dan para tamu sehingga  kamu akan menjadi orang-orang yang diterima di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala.”

“Janganlah merasa gembira atas musibah yang menimpa seorang makhluk Allah. Jangan berucap ghibah dan namimah. Jangan menyakiti orang yang menyakitimu, ma’afkanlah orang yang mendzalimimu, berbuatlah baik terhadap orang-orang yang berbuat jelek kepadamu, dan berilah orang yang menolak (memberi)-mu.”

Inilah sebagian dari ajaran Beliau, disamping sejumlah dzikir-dzikir dan do’a-do’a. Thoriqoh Ahmadiyah ini mempunyai banyak cabang di Mesir dan juga tersebar ke Sudan

Toriqottijaniyah

Mu’assis Thoriqoh Tijaniyyah ini adalah wali khatmi wal katmi Sayidisy Syaikh Abul ‘Abbas Ahmad bin Muhammad At-Tijani radliyallahu ‘anhu (1150-1230 H). Jalur nasab ayahnya bersambung sampai kepada Sayidina Hasan As-Sibthi bin Ali bin Abi Thalib radliallahu anhum.

Pada tahun 1196 H, Syaikh Ahmad At-Tijani pergi ke sebuah tempat yang tenang dan barakah  di padang sahara, yang di situ tinggal seorang wali agung  Abu Samghun. Di tempat itu beliau memperoleh alfath al-akbar (anugerah yang sangat besar) dari Allah Subhanahu wa ta’ala, yaitu bermuwajahah (bertatap muka) dengan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam secara yaqadhah (keadaan jaga/bukan mimpi). Pada saat itu Rasulullah mentalqin beliau untuk; a).Wirid istighfar 100 kali dan shalawat 100 kali, dan b).mentalqinkan wirid tersebut kepada umat Islam yang berminat sekalipun berdosa. Dan juga bersabda kepada beliau: ”Tidak ada karunia bagi seorang makhluk pun dari para guru thoriqoh atas kamu. Akulah wasilah (perantaramu dan pembimbingmu dengan sebenar-benarnya), maka tinggalkanlah semua thoriqoh yang telah kamu ikuti.”

Pelaksanaan wirid tersebut  berjalan selama empat tahun. Dan pada tahun 1200 H, wirid itu  disempurnakan oleh Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam dengan ditambah lailallah (Laa ilaaha illallah).

Thoriqoh Tijaniyah ini tersebar luas di Mesir, Kepulauan Arab, sebagian penjuru Asia, Afrika Hitam, dan juga di barat Afrrika.

Para pengikut Thoriqoh ini mempunyai sumbangan yang besar terhadap Islam, karena mereka telah menyebarkan prinsip-prinsip Islam ke tengah-tengah kaum penyembah berhala di Afrika, dan memasukkan mereka ke dalam Islam, sebagaimana sumbangan mereka yang juga besar dalam menolak misi para misionarris Nasrani di Afrika.

Kitab tentang sejarah thoriqoh ini serta dzikir-dzikirnya telah ditulis oleh para guru Tijaniyah, yaitu Jawahirul Ma’ani wa Bulughul Amani fi Faidl Asy-Syaikh  At-Tijani atau yang juga dikenal  dengan kitab  Al-Kanais.

Toriqot dasuqiyah

Thoriqoh Dasuqiyah yang juga terkenal dengan Thoriqoh Barhamiyah, mu’assisnya adalah Wali Agung Sayyid Ibrahim Ad-Dasuqiy radliyallahu anhu (623-676 H).

Diantara nasehat-nasehatnya yang terkenal antara lain:

“Diantara yang wajib bagi murid adalah pe-nela’ah-an terhadap sesuatu yang di dalamnya terdapat manaqib (sejarah) para shalihin dan peninggalan-peninggalan mereka berupa ilmu dan amal.”

“Barang siapa yang tidak bersifat iffah (menjaga kehormatan diri), bersih dan mulia, maka dia bukanlah anakku walau dari tulang rusukku.”

Barang siapa yang menetapi thoriqoh, agama, zuhud, wira’i dan menyedikitkan tama’, maka dialah anakku sekalipun dari negeri yang jauh.”

“Demi Allah Subhanahu wa ta’ala, tidaklah seorang murid itu benar-benar mahabbahnya kepada thoriqoh kecuali akan tumbuh hikmah di dalam hatinya.”

Itulah antara lain wasiat beliau kepada para muridnya, yang merupakan fondasi thoriqohnya, disamping sejumlah dzikir, wirid, dan do’a untuk taqarub kepada ‘Allamul-Ghuyub (Allah).

Thoriqoh Dasuqiyah ini tumbuh dan berkembang di Mesir dan menyebar luas di Sudan.