TORIQOT NAQSABANDIYAH

Peletak dasar Thoriqoh Naqsyabandiyah ini adalah Al-Arif Billah Asy Syaikh Muhammad bin Muhammad Bahauddin Syah Naqsyabandi Al-Uwaisi Al- Bukhori radliyallahu anhu (717-865 H) .

Dijelaskan oleh Syaikh Abdul Majid bin Muhammad Al Khaniy dalam bukunya Al-Hada’iq Al-Wardiyyah, bahwa thoriqoh Naqsabandiyyah ini adalah thoriqohnya para sahabat yang mulia radlallahu anhum sesuai aslinya, tidak menambah dan tidak mengurangi. Ini merupakan untaian ungkapan dari langgengnya (terus menerus) ibadah lahir bathin dengan kesempurnaan mengikuti sunnah yang utama dan ‘azimah yang agung  serta kesempurnaan dalam menjauhi bid’ah dan rukhshah dalam segala keadaan gerak dan diam, serta langgengnya rasa khudlur bersama Allah Subhanahu wa ta’ala, mengikuti Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam dengan segala yang beliau sabdakan dan  memperbanyak dzikir qalbi.

Dzikirnya para guru Naqsyabandiyah adalah qalbiyah (menggunakan Hati). Dengan itu mereka bertujuan hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala semata dengan tanpa riya’, dan mereka tidak mengatakan suatu perkataan dan tidak membaca suatu wirid  kecuali dengan dalil  atau sanad dari kitab Allah Subhanahu wa ta’ala  atau  sunnah Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Asy-Syaikh Musthofa bin Abu Bakar Ghiyasuddin An-Naqsyabandiy menyatakan dalam risalahnya Ath Thoriqoh An-Naqsabandiyah Thoriqoh Muhammadiyah, bahwa thoriqoh ini memiliki tiga marhalah (tingkatan);

a.       Hendaklah anggota badan kita berhias dengan dzahirnya syari’ah Muhammadiyah.

b.       Hendaklah jiwa- jiwa kita bersih dari nafsu- nafsu yang hina, yaitu hasad, thama’, riya, nifaq, dan ‘ujub pada diri sendiri. Karena hal itu merupakan  sifat yang paling buruk dan karenanya iblis mendapatkan  laknat.

c.       Berteman dengan shadikin (orang-orang yang berhati jujur)

Thoriqoh Naqsyabandiyah ini mempunyai banyak cabang aliran thoriqoh di Mesir.

Toriqot rifaiyyah

Mu’assis Thoriqoh Rifaiah adalah Wali Agung Sayid Ahmad Ar-Rifa’i radliallahu ‘anhu (512-578 H). Beliau telah meletakkan dasar-dasar yang kuat dan prinsip-prinsip yang kokoh untuk thoriqoh yang mubarakah, yaitu ajakan untuk beriman dan mengikuti sunnah Rasul Allah, menjaga rukun Islam, berpegang pada keutamaan-keutamaan dan menjauhi hal-hal yang hina (sifat dan perilaku yang nista).

Diantara nasehat- nasehatnya yang terkenal antara lain:

“Hendaklah kalian berdzikir pada Alllah Subhanahu wa ta’ala, karena dzikrullah itu adalah magnet-magnet penghubung dan tali yang bisa  mendekatkan diri kepada-Nya. Barang siapa yang berdzikir pada Allah Subhanahu wa ta’ala maka ia akan merasa aman bersama dengan Allah dan pasti akan bisa sampai kepadanya.”

“TaShollallahu ‘alaihi wa sallamwuf adalah berpaling dari selain Allah Subhanahu wa ta’ala, tidak sibuk berfikir tentang dzat Allah dan hanya berserah diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.”

Toriqot qodiriyah

Pendiri (mu’assis) Thoriqoh Qodiriyah adalah Wali agung Sayyid Syaikh Abdul Qodir bin Musa Al-Jilany radliallahu anhu (470-561H). Jalur nasab ayahnya sampai pada Sayidina Hasan, sedang ibunya  sampai pada Sayidina Husain.

Beliau telah meletakkan dasar-dasar yang kokoh dan prinsip-prinsip yang benar untuk thoriqohnya yang agung  dalam kitabnya Al-Ghaniyah li Tholibii Thoriqil-Haq dan kitabnya Al-Fath Ar-Rabbani wal Faidl Ar-Rahmaniy.

Disamping itu beliau juga perintahkan pada muridnya untuk berdzikir kepada Allah Subhanahu wa ta’ala pada malam hari, siang hari dan setelah shalat lima waktu,agar dapat wushul kepada-Nya.

Diantara nasehat-nasehatnya yang terkenal antara lain:

“Janganlah seseorang menghukumi syirik, kufur atau nifaq kepada satu orang pun  dari ahli qiblat (orang yang melaksanakan shalat). Karena hal itu tidak akan  mendekatkan pada sifat  kasih sayang  dan tidak akan meninggikan derajat, justru akan menjauhkan  diri dari merasuknya ilmu Allah Subhanahu wa ta’ala. Tidak akan menjauhkan nya dari murka Allah dan tidak pula mendekatkan pada ridla Allah dan rahmatNya.

Perbaikilah akhlaq, karena ia adalah pintu keagungan dan kemuliaan di sisi Allah, yang akan menyebabkan seorang hamba bersikap kasih sayang  kepada makhluk semuanya.”

“Belajarlah fiqh, dan ‘uzlahlah.”

“Amal shaleh adalah  perkerjaan yang hanya bisa dikerjakan oleh orang yang bisa srawung (bergaul) dengan Allah dengan kejujuran.”

“Hakekat syukur adalah pengakuan  bahwa semua kenikmatan yang dialami datangnya dari Sang Pemberi Nikmat , yaitu Allah Subhanahu wa ta’ala .”

Thoriqoh Qodiriyah ini penganutnya tersebar meluas di Iraq, Mesir, Sudan, Libya, Tunisia, Al-Jazair, Daratan Afrika, dan juga Indonesia.

Toriqot sadzaliyah

Pendiri Thariqah Syadzaliyah adalah seorang Wali Agung, Abul Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar Asy-Syadzaliy radliallahu anhu (593-656 H). Kehidupan Beliau adalah kehidupan  seorang syaikh pengembara di muka bumi, sambil bersungguh-sungguh dengan berdzikir dan berfikir untuk mencapai fana’ (ketiadaan diri pada Allah). Dan Beliau ajarkan pada muridnya sikap zuhud pada dunia dan iqbal (perasaan hadir di hadapan Allah). Dan juga menganjurkan mereka untuk berdzikir pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala di setiap waktu, tempat, dan keadaan serta menempuh jalan tashawuf. Beliau juga mewasiatkan agar para muridnya membaca kitab Ihya’ Ulumuddin dan kitab Qutul Qulub.

Syaikh Syadzili menjelaskan pada muridnya bahwa thariqahnya berdiri di atas lima perkara yang pokok, yaitu;

  1. Taqwa pada Allah Subhanahu wa ta’ala dalam keadaan rahasia maupun terbuka.
  2. Mengikuti sunnah Nabi dalam perkataan maupun perbuatan.
  3. Berpaling dari makhluk (tidak menumpukan harapan) ketika berada di depan atau di belakang mereka.
  4. Ridlo terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala dalam (pemberian-Nya) sedikit maupun banyak.
  5. Kembali kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dalam keadaan senang maupun duka.

Disamping mengajak mereka  untuk mengiringi thoriqohnya dengan dzikir-dzikir dan do’a–do’a sebagaimana termuat dalam kiab-kitabnya, seperti kitab Al-Ikhwah, Hizb Al-bar, Hizb Al-Bahr, Hizb Al-Kabir, Hizb Al-Lathif, Hizb Al-Anwar dan sebagainya.

Thoriqoh Syadzaliyah ini berkembang dan tersebar di Mesir, Sudan, Libia, Tunisia, Al-Jazair,  Negeri utara Afrika dan juga Indonesia.

Toriqot ahmadiyah

Thoriqoh Ahmadiyah yang juga terkenal dengan Thoriqoh Badawiyah ini, mu’assisnya adalah Sayyid Ahmad Al-Badawiy radliyallahu anhu (596-675 H) Beliau mempunyai banyak karangan kitab yang berharga, diantaranya yang paling masyhur adalah kitab Ash-Sholawat, yang berupa kumpulan do’a-do’a dan dzikir-dzikir.

Diantara nasehat- nasehatnya yang terkenal antara lain:

“Jauhilah cinta dunia, karena ia akan merusak amal shaleh.”

“Sayangilah anak yatim, pakaianilah orang yang telanjang, berilah makan orang yang lapar, muliakanlah orang asing dan para tamu sehingga  kamu akan menjadi orang-orang yang diterima di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala.”

“Janganlah merasa gembira atas musibah yang menimpa seorang makhluk Allah. Jangan berucap ghibah dan namimah. Jangan menyakiti orang yang menyakitimu, ma’afkanlah orang yang mendzalimimu, berbuatlah baik terhadap orang-orang yang berbuat jelek kepadamu, dan berilah orang yang menolak (memberi)-mu.”

Inilah sebagian dari ajaran Beliau, disamping sejumlah dzikir-dzikir dan do’a-do’a. Thoriqoh Ahmadiyah ini mempunyai banyak cabang di Mesir dan juga tersebar ke Sudan

Toriqottijaniyah

Mu’assis Thoriqoh Tijaniyyah ini adalah wali khatmi wal katmi Sayidisy Syaikh Abul ‘Abbas Ahmad bin Muhammad At-Tijani radliyallahu ‘anhu (1150-1230 H). Jalur nasab ayahnya bersambung sampai kepada Sayidina Hasan As-Sibthi bin Ali bin Abi Thalib radliallahu anhum.

Pada tahun 1196 H, Syaikh Ahmad At-Tijani pergi ke sebuah tempat yang tenang dan barakah  di padang sahara, yang di situ tinggal seorang wali agung  Abu Samghun. Di tempat itu beliau memperoleh alfath al-akbar (anugerah yang sangat besar) dari Allah Subhanahu wa ta’ala, yaitu bermuwajahah (bertatap muka) dengan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam secara yaqadhah (keadaan jaga/bukan mimpi). Pada saat itu Rasulullah mentalqin beliau untuk; a).Wirid istighfar 100 kali dan shalawat 100 kali, dan b).mentalqinkan wirid tersebut kepada umat Islam yang berminat sekalipun berdosa. Dan juga bersabda kepada beliau: ”Tidak ada karunia bagi seorang makhluk pun dari para guru thoriqoh atas kamu. Akulah wasilah (perantaramu dan pembimbingmu dengan sebenar-benarnya), maka tinggalkanlah semua thoriqoh yang telah kamu ikuti.”

Pelaksanaan wirid tersebut  berjalan selama empat tahun. Dan pada tahun 1200 H, wirid itu  disempurnakan oleh Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam dengan ditambah lailallah (Laa ilaaha illallah).

Thoriqoh Tijaniyah ini tersebar luas di Mesir, Kepulauan Arab, sebagian penjuru Asia, Afrika Hitam, dan juga di barat Afrrika.

Para pengikut Thoriqoh ini mempunyai sumbangan yang besar terhadap Islam, karena mereka telah menyebarkan prinsip-prinsip Islam ke tengah-tengah kaum penyembah berhala di Afrika, dan memasukkan mereka ke dalam Islam, sebagaimana sumbangan mereka yang juga besar dalam menolak misi para misionarris Nasrani di Afrika.

Kitab tentang sejarah thoriqoh ini serta dzikir-dzikirnya telah ditulis oleh para guru Tijaniyah, yaitu Jawahirul Ma’ani wa Bulughul Amani fi Faidl Asy-Syaikh  At-Tijani atau yang juga dikenal  dengan kitab  Al-Kanais.

Toriqot dasuqiyah

Thoriqoh Dasuqiyah yang juga terkenal dengan Thoriqoh Barhamiyah, mu’assisnya adalah Wali Agung Sayyid Ibrahim Ad-Dasuqiy radliyallahu anhu (623-676 H).

Diantara nasehat-nasehatnya yang terkenal antara lain:

“Diantara yang wajib bagi murid adalah pe-nela’ah-an terhadap sesuatu yang di dalamnya terdapat manaqib (sejarah) para shalihin dan peninggalan-peninggalan mereka berupa ilmu dan amal.”

“Barang siapa yang tidak bersifat iffah (menjaga kehormatan diri), bersih dan mulia, maka dia bukanlah anakku walau dari tulang rusukku.”

Barang siapa yang menetapi thoriqoh, agama, zuhud, wira’i dan menyedikitkan tama’, maka dialah anakku sekalipun dari negeri yang jauh.”

“Demi Allah Subhanahu wa ta’ala, tidaklah seorang murid itu benar-benar mahabbahnya kepada thoriqoh kecuali akan tumbuh hikmah di dalam hatinya.”

Itulah antara lain wasiat beliau kepada para muridnya, yang merupakan fondasi thoriqohnya, disamping sejumlah dzikir, wirid, dan do’a untuk taqarub kepada ‘Allamul-Ghuyub (Allah).

Thoriqoh Dasuqiyah ini tumbuh dan berkembang di Mesir dan menyebar luas di Sudan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: